Tidak Masuk NBA All-Star, LeBron James: Masih Raja Lapangan? Pengumuman starter NBA All-Star Game 2026 pada 19 Januari lalu jadi momen bersejarah sekaligus kontroversial: LeBron James tidak terpilih sebagai starter untuk pertama kalinya dalam 22 tahun karirnya. Di usia 41 tahun, The King finis peringkat delapan di voting Western Conference, kalah dari Luka Dončić, Shai Gilgeous-Alexander, Stephen Curry, Nikola Jokić, dan Victor Wembanyama. Meski masih berpeluang masuk reserve lewat voting pelatih, absennya dari starting five memicu pertanyaan besar di kalangan fans dan analis: apakah LeBron masih benar-benar raja lapangan? Di tengah musim Lakers yang kompetitif berkat tandem dengan Luka, performa LeBron tetap solid—tapi apakah itu cukup untuk mempertahankan status legendarisnya di era baru NBA? BERITA OLAHRAGA
Kronologi Voting dan Faktor Penyebab
Voting starter All-Star 2026 pakai formula weighted: 50% fan vote, 25% pemain, 25% media. LeBron dapat sekitar 1,8 juta suara fan, tapi itu tak cukup lawan bintang muda yang lagi panas. Luka Dončić dominasi voting sebagai pemimpin, diikuti SGA dan Wembanyama yang punya hype besar. LeBron sendiri absen 17 laga musim ini karena sciatica dan load management, membuatnya main di sebagian kecil pertandingan saja. Statistiknya 22,6 poin, 5,9 rebound, 6,9 assist per game—terendah sejak rookie year—meski efisiensi shooting tetap elite. Streak 1.297 game beruntun minimal 10 poin juga putus Desember lalu. Kompetisi Barat sangat ketat, dan faktor usia plus cedera membuatnya kalah suara dibanding pemain yang main hampir setiap malam. Starter Barat akhirnya: Luka, SGA, Curry, Jokić, Wembanyama—empat di antaranya first-time starter. Timur dipimpin Giannis, Brunson, Maxey, Cunningham, Brown. Format baru US vs World mini-tournament di Intuit Dome 15 Februari makin menonjolkan fresh faces.
Performa LeBron Musim Ini dan Legacy yang Tak Terbantahkan
Meski tak starter All-Star, LeBron tetap jadi motor Lakers. Dengan Luka di sisinya, offense Lakers jadi lebih dinamis—LeBron sering jadi playmaker utama, menciptakan ruang untuk shooter dan finisher. Ia masih unggul di clutch moment, sering cetak poin krusial di akhir kuarter. Di usia 41, kemampuan passing-nya tetap kelas dunia, visi lapangan tak tergantikan, dan defense-nya lebih baik dari ekspektasi banyak orang. Legacy-nya sudah aman: all-time leading scorer (lebih dari 42.000 poin), empat gelar juara, empat Finals MVP, empat NBA MVP, 21 All-Star (rekor), 13 All-NBA First Team (rekor). Ia satu-satunya pemain dengan 40.000 poin, 11.000 rebound, 11.000 assist. Dari draft 2003 hingga sekarang, LeBron lintasi tiga dekade NBA—dari era Kobe-Shaq hingga Wemby dan Edwards. Bahkan di musim ini, ia raih triple-double berkali-kali dan bantu Lakers tetap di zona playoff Barat. Raja lapangan bukan cuma soal starter All-Star, tapi pengaruh keseluruhan: leadership, clutch play, dan longevity yang tak ada tandingannya.
Debat: Masih Raja atau Sudah Waktunya Turun Tahta?: Tidak Masuk NBA All-Star, LeBron James: Masih Raja Lapangan?
Pertanyaan “Masih Raja?” muncul karena generasi baru mulai ambil alih. Wembanyama dengan ukuran dan skill-nya, Luka dengan scoring dan playmaking, SGA dengan cool efficiency—mereka punya aura “next king”. Fans muda bilang LeBron sudah “old school”, kalah atletis dibanding era sekarang. Tapi pendukung LeBron balas: raja bukan cuma soal stats harian atau voting fan, tapi dampak jangka panjang. Curry masih starter di usia 37 karena three-point revolution-nya, LeBron di 41 masih all-around threat yang bikin lawan adjust strategi. Absen starter ini bisa jadi motivasi—atau sinyal transisi alami. Jika LeBron masuk reserve dan tampil bagus di All-Star, debat ini reda. Tapi jika cedera lagi atau performa drop, narasi “turun tahta” bakal makin kencang. Yang jelas, status “GOAT debate” LeBron vs Jordan tak terganggu—ini lebih soal era baru NBA yang lebih cepat dan atletis.
Kesimpulan: Tidak Masuk NBA All-Star, LeBron James: Masih Raja Lapangan?
Tidak masuk starter All-Star 2026 bukan akhir dari era LeBron James, tapi pengingat bahwa waktu terus berjalan bahkan untuk raja. Di usia 41, dengan cedera dan kompetisi ganas dari generasi muda, absen starter wajar—tapi legacy-nya tetap tak tergoyahkan. LeBron masih raja lapangan dalam arti pengaruh, skill all-around, dan kemampuan mengubah permainan tim. Peluang reserve terbuka lebar, dan jika ia tampil di Intuit Dome Februari nanti, itu bakal jadi statement kuat: The King belum lengser. NBA berubah, bintang baru muncul, tapi LeBron tetap ikon abadi. Masih raja? Ya, setidaknya sampai dia sendiri bilang berhenti. Respect untuk yang satu ini.